Sentrafarm Jadi Solusi Teknologi Pertanian Periode Depan

Sentrafarm Jadi Solusi Teknologi Pertanian Periode Depan

JAKARTA – Kalangan milenial turut berkontribusi membangun ketahanan pangan di periode depan. Salah satu inovasi teknologi ialah Sentrafarm. Co-founder Sentrafarm, Mush’ab Nursantio mengatakan, Sentrafarm merupakan agritech startup, di mana fokus pada comercial vertical farming dan beberapa permutasi teknologi di agriculture .

Tidak cuma itu, Sentrafarm juga berfokus di bisnis food & beverages dengan konsep menyerupai fast food restaurant di mana pihaknya mengenalkan produk-produm teknologi pangan ke masyarakat. “Sentrafarm ini latar belakang pendiriannya ingin meng-address masalah global food system. Secara general kita tahu masalah demand and supply , di mana ada penambahan jumlah penduduk dan 80 persennya di tahun 2050 akan tinggal di urban area atau perkotaan, ” ujar Mush’ab dalam webinar Food Heroes Day, Sabtu (31/10/2020).

Baca Selalu: Bangun Food Estate di Sumut, Jokowi: Fokus Tanam Kentang & Bawang

Secara meningkatnya sisi demand dan supply , Mush’ab menyampaikan kalau pihaknya melihat ada tantangan tumbuh ke depan seperti perubahan iklim, degradasi lahan dimana hampir 40 persen lahan subur di negeri tidak produktif lagi. Selain itu penggunaan resources seperti air dimana 70 persen fresh water global digunakan untuk pertanian

Baca Juga:

“Ini kita menentang dengan teknologi industry vertical farming ini kita bisa menyelesaikan sebagian dari masalah tersebut, dimana dengan pola ini kita bisa memproduksi 50 kali lebih banyak dikarenakan kita menggunakan artificial lightning, tidak menggunakan matahari tapi menggunakan panjang cahaya spektrum tertentu dengan menggunakan LED kita bisa menghemat space dengan menyusun skala vertikal, ” katanya.

Dengan intensitas cahaya yang diterima jauh lebih banyak dipadankan pertanian konvensional, imbuhnya tanaman mampu panen jauh lebih cepat. Sebab yang biasanya konvensional pertanian memerlukan waktu tiga bulan untuk panen, di sistem ini hanya memerlukan 25 sampai 30 hari. “Karena ini di tempat tertutup kita bisa control climatenya dimana sangat aman, tidak menggunakan pestisida sebanding sekali dan airnya cycle di mana kita menggunakan 95 kali bertambah sedikit air dibanding pertanian lazim, ” ucapnya.

Baca Juga: Food Estate Diutamakan di Lahan Mineral

Selain itu, di Indonesia, menurutnya, memiliki masalah pada regenerasi petani, yang mana mayoritaa petani menginginkan anak-anaknya agar tidak menjadi petani nantinya. “Ini yang kita lihat sebagai lengah satu yang bisa jadi penyelesaian, yang kita lihat dari awak internal kita sendiri, kita kongsi pertanian tapi yang lulusan pertanian cuma dua orang, kebanyakan engineer dan software developer, ini dengan udah belajar pertanian malah karirnya di bidang lain, ini kita yang jelas-jelas bidang lain malah karirnya di pertanian. Ini salah satu benefit yang kita bisa lihat secara langsung, ” tuturnya.

Author Image
Vincent Moore