Satgas COVID-19: Budaya Bermasker Harus Dimulai dari Sadar Bahaya Virus Corona

Satgas COVID-19: Budaya Bermasker Harus Dimulai dari Sadar Bahaya Virus Corona

JAKARTA berantakan Budaya patuh protokol kesehatan kudu dimulai dari pemahaman tentang bahaya COVID-19 . Apalagi saat ini ribuan kasus meyakinkan COVID-19 terus bertambah setiap harinya, termasuk angka kematian yang masih meningkat.

Hal itu diungkapkan Ketua Satgas COVID-19 RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Ika Trisnawati dalam diskusi bertajuk ‘Budaya Wajib Masker, Ampuh Kurangi Risiko Penularan Covid-19’ yang diselenggarakan SINDO Media bersama-sama Satgas Penanganan COVID-19, Rabu (14/10/2020). (Baca juga: GPM Akui Tidak Mudah Bangun Budaya Wajib Pakai Masker)

Berbagai kebijakan telah dikeluarkan pemerintah hingga menerapkan sanksi sosial sampai denda bagi pelanggar protokol kesehatan. Namun, tidak sedikit karakter yang belum menyadari kepatuhan itu, salah satunya memakai masker era berkegiatan di luar rumah.

Ika mengatakan bahwa membentuk budaya wajib pakai masker tersebut harus dimulai dari pemahaman naas COVID-19 yang bisa merenggut hidup. Melalui pemahaman tersebut, orang dengan kesadaran penuh akan beralih menggunakan masker.

Baca Juga:

“Karena kita kesimpulan, dengan kesadaran penuh tidak terpaksa lagi menggunakan masker. Misalnya, gunakan masker karena takut didenda. Maka kita tidak perlu lagi seperti itu, ” jelasya.

Klub harus tahu bahwa virus SARS Cov-2 yang menyebabkan COVID-19 benar mudah menular ke sel tubuh manusia. Hal itu dikuatnya dengan data hingga 11 Oktober 2020, kasus positif sudah mencapai hampir mencapai 18 juta. Khusus pada Indonesia, kasusnya sudah menembus 333 ribu dengan jumlah kematian mencapai hampir 12 ribu orang.

Terlebih lagi, COVID-19 memiliki keunikan lantaran yang terpapar belum tentu langsung mengalami gejala seperti halnya influenza. Gejala tersebut bisa muncul beberapa hari berikutnya. Di sisi lain, flu bisa sehat dengan sendirinya melalui istirahat yang cukup dan mengonsumsi makanan yang sehat.

“Bedanya dengan COVID-19, ada yang memang tanpa gejala, ada yang dengan gejala ringan, serta ada juga dengan gejala mengandung sampai dengan kematian, ” imbuh dokter spesialis di Departemen Pengetahuan Penyakit Dalam, FK UGM tersebut.

Terkait penggunaan kedok, Ika menjelaskan bahwa penyebaran virus bisa terjadi karena kontak baik dengan orang yang sudah terpapar. Umumnya, percikan yang keluar sejak hidung maupun mulut penderita COVID-19 akan mengeluarkan partikel kecil (droplet) yang bisa terbawa di hawa dan mudah terhirup.

“Inilah mengapa kita harus menggunakan masker. Kalaupun kita berada depan orang yang terinfeksi COVID-19, jikalau kita menggunakan proteksi (masker), oleh karena itu kita tidak akan mudah menghirup droplet yang dikeluarkan oleh pasien, ” paparnya.

Percikan lainnya bisa berwujud partikel luhur yang bisa menempel pada benda-benda di sekeliling orang yang rendah. Apabila disentuh orang sehat dan tidak melakukan cuci tangan, langsung menyentuh mulut, hidung atau menyapu wajah, maka akan menyebabkan penularan secara tidak langsung. (Baca juga: Efektif Cegah Paparan COVID-19, Budaya Wajib Masker Harus Terus Dikampanyekan)

Melihat bahaya tersebut, Ika tahu perlunya penerapan protokol kesehatan secara memakai masker, menjaga jarak sedikitnya 1 meter, dan mencuci lengah di air mengalir dengan menjalankan sabun (3M).

Author Image
Vincent Moore