Prancis Ogah Terseret Konflik China-AS

PARIS – Seorang pejabat tinggi militer Prancis mengatakan bahwa sekalipun akan sulit bagi Uni Eropa (UE) untuk menempa identitas kebijakan bersama, Eropa tidak dapat dipaksa untuk memilih pihak dalam persaingan antara Amerika Konsorsium (AS) dan China .

Kepala staf pertahanan Prancis, Jenderal Angkatan Darat Francois Lecointre, berbicara tentang bahaya yang datang dari kekuatan yang menantang stabilitas & hukum internasional, khususnya Rusia, China, dan Iran.

“Kami sedang menuju reorganisasi tatanan dunia dengan terstruktur di sekitar pertarungan antara Amerika Serikat & China, ” kata jenderal itu dalam wawancara dengan Le Figaro.

Baca Juga:

Ia menambahkan bahwa setiap negara hendak dipanggil untuk memilih bagian.

Baca juga: Abaikan Kemarahan China, PM Inggris Bela Penghimpunan Kapal Induk ke Laut China Selatan

“Ini hendak sangat sulit karena tertib Prancis maupun Eropa tidak tertarik padanya. Sementara ikatan kita dengan Amerika Serikat tidak dapat dipertanyakan, dengan penting, kita tidak bisa membiarkan diri kita ditarik ke dalam konfrontasi tak bernuansa yang mungkin pegari antara China dan Amerika Serikat, ” ujarnya semacam dikutip dari Russia Today , Minggu (23/5/2021).

Masa ditanya apakah orang Eropa akan memiliki otonomi penting, Lecointre mengatakan UE di awalnya dibangun di sekitar hubungan ekonomi, dan penempaan identitas politik bersama tidak diragukan lagi akan lebih sulit dalam jangka rendah.

“Kami beruang di titik balik, ” ucap jenderal itu.

“Eropa hendak tetap seperti sekarang itu, pada akhirnya menghilang daripada panggung internasional, atau tempat akan dapat memenuhi harapan keamanan warganya, ” dia menambahkan.

Baca juga: Beijing: Kapal Perang AS Masuk Daerah China di Laut China Selatan

AS dan China terlibat perselisihan dalam banyak masalah beberapa tahun terkahir, termasuk perdagangan, Hong Kong, dan Taiwan. Pejabat GANDAR, antara lain, telah menekan negara-negara Eropa untuk menghapus teknologi telekomunikasi China dibanding pasar mereka.

Presiden Prancis Emmanuel Macron awal tahun ini mengucapkan bahwa akan menjadi “kontraproduktif” bagi UE untuk dengan tegas bergabung dengan GANDAR dalam persaingannya dengan Beijing.

Lecointre serupa mengatakan bahwa, seperti China, Rusia menjadi pesaing dengan sangat berbahaya dalam hal kapal selam dan peluru kendali balistik.

“Moskow terus ingin melemahkan model demokrasi kita dengan berlaku di bidang digital dan bidang pengaruh, ” tudingnya.

“Hari tersebut, kehadiran Rusia, Turki ataupun China di Afrika mengkhawatirkan dan membuat tidak stabil, ” kata Lecointre.

Baca selalu: Rusia Luncurkan Produksi Massal Robot Perang yang Bisa Bertempur Sendiri

Rusia saat ini memiliki sekitar 500 instruktur dan penasihat militer di Republik Afrika Tengah, bekas koloni Prancis, wadah mereka membantu tentara melayani berbagai kelompok pemberontak. Rusia selalu menyatakan bahwa prajuritnya secara resmi hadir pada negara itu, karena itu berada di sana untuk perintah pemerintahnya.

Berbicara tentang peran kekuatan asing di Afrika, Macron mengatakan kepada majalah Jeune Afrique tahun lalu bahwa Rusia dan Turki mempermainkan kebencian pasca-kolonial terhadap Prancis.

Author Image
Vincent Moore