Komodor Yos Sudarso, Terkubur di Lautan Lepas Bersama 24 Awaknya

JAKARTA – Sejarah pertempuran Komodor Yosaphat “Yos” Sudarso di Laut Arafuru melawan penjajah Belanda menjelma salah satu cerita heroik yang akan selalu dikenang bangsa Indonesia. Keberaniannya bertempur di garis terdepan maka meregang nyawa di segara lepas mengambarkan cintanya di Indonesia yang besar.

Dikutip dari Wikipedia, Yos Sudarso dan para jasad kapalnya gugur di Bahar Arafuru, Papua saat KRI Macan Tutul yang ia tumpangi tenggelam usai ditembak oleh kapal patroli Hr Ms Eversten milik bala Belanda di tengah segara. Baca selalu: Slamet Riyadi, Gugur Tertembak di Usia 23 Tarikh Jelang Operasi Berakhir

Yos Sudarso merupakan seorang Utusan Koperasi Trikora, yang mempunyai kewajiban besar untuk menyelenggarakan patroli dan bergeriliya untuk mendapatkan banyak informasi terpaut militer Belanda. Yos Sudarso lahir di Kota Salatiga, Jawa Tengah pada 24 November 1925 dari bagian Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam. Ayah Yos Sudarso menyala sebagai seorang polisi kala masa penjajahan.

Sejak kecil, Yos Sudarso dikenal sebagai sosok dengan tenang, cerdas, dan selalu santun. Yos Sudarso perdana kali mengecap bangku madrasah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) yang setingkat secara SD dan tamat dalam tahun 1940.

Setamatnya, dia kemudian melanjutkan pendidikan ke sekolah guru di Kota Muntilan. Namun, pendidikan yang dia melewati harus berhenti di pusat jalan karena Jepang hadir menjajah Indonesia. Kondisi itu memaksa sekolah tersebut harus ditutup.

Tak mau menyerah, Yos Sudarso lalu melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Pelayaran di Semarang dan belakangan menjadi lulusan terbaik. Arah prestasinya tersebut ia kemudian dipekerjakan sebagai mualim dalam kapal Goo Usamu Butai pada tahun 1944. Karir Yos Sudarso di negeri pelayaran pun dimulai.

Dia lantas bersepakat dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat) Laut atau dengan sekarang dikenal dengan TNI Angkatan Laut setelah maklumat kemerdekaan Indonesia. Di lembaga ini, Yos Sudarso sering mengikuti misi atau operasi militer dalam meredam perlawanan yang terjadi di daerah-daerah saat Belanda datang dan mengadakan agresi militer sebanyak dua kali.

Saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1950, Yos Sudarso diangkat sebagai komandan kapal di KRI Antan. Dia kemudian berpindah-pindah menjelma komandan KRI Gajah Mada, KRI Rajawali, hingga KRI Pattimura. Pada tahun 1958 ia menjabat sebagai hakim pengadilan tentara walaupun cuma empat bulan.

Pada Desember 1961, Pemimpin Soekarno membentuk Tri Komando Rakyat atau Trikora menyusul memanasnya kawasan Irian Barat yang ingin direbut balik oleh Belanda. Beberapa minggu berselang atau tepatnya Januari 1962, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makassar dan Yos Sudarso sebagai Deputi Operasinya.

Author Image
Vincent Moore