Iran Bantah Sepakat dengan Rusia buat Gulingkan Assad

Iran Bantah Sepakat dengan Rusia buat Gulingkan Assad

loading…

TEHERAN – Teheran menengkari laporan tentang kesepakatan Iran, Rusia dan Turki untuk menggulingkan Presiden Bashar al-Assad dari kekuasaannya pada Suriah. Bantahan disampaikan penasihat superior untuk ketua Parlemen Iran, Hossein Amir Abdollahian.

Abdollahian menggambarkan Assad sebagai presiden sah Suriah. “Laporan kesepakatan antara Iran & Rusia untuk pengunduran dirinya merupakan kebohongan besar dan permainan oleh media Amerika Serikat-Zionis, ” katanya.

“Teheran sangat menunjang kedaulatan, persatuan nasional dan akhlak teritorial Suriah, ” ujarnya, semacam dikutip Middle East Monitor , Senin (18/5/2020).

Iran adalah sekutu kuat rezim Assad, yang pasukannya telah memerangi kelompok oposisi dalam perang saudara yang mematikan sejak 2011. Rusia juga menjadi sekutu Assad. Sedangkan Turki merupakan pendukung antitesis Suriah. (Baca: Petunjuk RIAC: Rusia, Turki, dan Iran Sepakat Singkirkan Presiden Assad)

Baca Serupa:

Laporan mengenai kesepakatan itu berasal dari Dewan Urusan Internasional Rusia (RIAC), sebuah kelompok think tank yang berbasis di Moskow. Menurut laporan RIAC, trio Rusia-Iran-Turki juga akan menciptakan gencatan senjata untuk membentuk pemerintahan transisi yang didalamnya termasuk antitesis dan anggota rezim Suriah.

RIAC dikenal dekat secara para pembuat kebijakan dalam tadbir Rusia. Laporan RIAC menyebut pola Rusia bernama Yayasan untuk Penjagaan Nilai-nilai Nasional yang berafiliasi secara badan keamanan dan kantor Pemimpin Rusia Vladimir Putin telah mengimplementasikan survei di Suriah.

Survei itu mengirim pesan politik sangat jelas bahwa rakyat Suriah tidak ingin Assad tetap menjelma presiden.

“Sejak pembukaan intervensi militer di Suriah, Moskow berupaya menghindari dianggap sebagai pembela Assad, berbagai negosiasi menekankan kaum Suriah akan memutuskan apakah Assad masih atau tidak untuk lestari berkuasa, ” bunyi laporan RIAC.

“Rusia menjadi bertambah serius tentang membuat perubahan dalam Suriah, paling tidak karena menangani Assad telah menjadi penghalang, ” lanjut laporan RIAC.

Kantor berita Rusia, TASS , dalam laporannya membuktikan, “Rusia memperkirakan Assad tidak cuma tak bisa memimpin negara tersebut lagi, tapi juga kepala rezim Suriah itu menyeret Moskow menuju skenario Afghanistan, yang sangat tak diharapkan Rusia. ”

“Iran yang menderita akibat hukuman Amerika Serikat (AS), tidak gandrung mencapai stabilitas di seluruh zona, karena mempertimbangkan pertarungannya dengan Washington, ” lanjut laporan TASS .

(min)

Author Image
Vincent Moore