Hikayat Mistis: Burung Merak Raja pada Bawah Keranjang

Hikayat Mistis: Burung Merak Raja pada Bawah Keranjang

loading…

SEORANG raja mempunyai suatu taman, yang sepanjang empat musim selalu ditumbuhi tanam-tanaman yang wangi, hijau subur dan menyenangkan. Tirta mengalir berlimpah-limpah melaluinya, dan segala macam burung bernyanyi dari dahan-dahan pohon.

Setiap hal yang baik dan indah yang dapat kita bayangkan terdapat di dalam taman itu. Dan di jarang semuanya itu ada sekelompok rumor merak yang cantik.

Sekali waktu sang raja mengambil salah seekor burung merak, & memerintahkannya agar ia dimasukkan ke dalam kantung kulit supaya bulu-bulunya tidak dapat dilihat, sehingga dia tidak dapat mengagumi keindahannya tunggal dengan cara apa pun.

Baca pula
: Cara Aneh Abu Nawas Memasak, Baginda Jadi Kelaparan

Baca Juga:

Tempat juga memerintahkan agar burung merak itu ditempatkan di bawah suatu keranjang yang hanya mempunyai satu lubang, melalui lubang itu sedikit biji-bijian dapat dituangkan ke dalamnya untuk makanannya.

Lama waktu berlalu. Burung merak tersebut lupa pada dirinya sendiri, sang raja, taman, dan burung-burung merak lainnya. Ia melihat pada dirinya sendiri. Burung tersebut tidak melihat apa-apa kecuali kantung kulit dengan kotor itu. Ia mulai menyukai tempat tinggalnya yang gelap dan jelek; ia percaya di dalam hatinya bahwa tidak mungkin tersedia tempat yang lebih besar sebab ruangan dalam keranjang itu, sedemikian rupa sehingga ia menganggapnya jadi keyakinan bahwa jika ada orang menyatakan tentang suatu kehidupan, wadah tinggal atau kesempurnaan di luar yang ia ketahui, maka dia menganggapnya sebagai kekafiran mutlak, omong kosong besar dan kebodohan yang murni.

Membaca Juga : Baginda Percaya Nggak Percaya, Abu Nawas Bisa ke Bulan

Sekalipun begitu, setiap kali angin segar bergerak, dan harumnya bunga-bunga dan pepohonan, violet (sejenis tumbuhan yang bunganya berbau harum), melati dan pokok rempah-rempah sampai ke hidung burung itu, ia merasakan kesenangan yang mengejutkan melalui lubang itu. Muncul kekhawatiran di dalam hatinya. Ia merasakan adanya hasrat untuk kabur dan kerinduan batin, tetapi ia tidak tahu dari mana kerinduan itu berasal, sebab, kecuali kantung kulit itu, ia tidak pendidikan apa-apa; selain keranjang itu, tak ada dunia lain; selain biji-bijian itu, tidak ada makanan lain. Ia telah melupakan semuanya.

Ketika sekali-sekali ia mendengar suara burung-burung merak bernyanyi, dan burung-burung lain berlagu, kerinduan dan hasratnya timbul; tetapi dia tidak terbangunkan oleh suara-suara burung-burung itu atau hembusan angin.

Baca pula : Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Berpendidikan Bicara

Pernah dia bergairah memikirkan sarangnya. Angin sepoi-sepoi bertiup menyentuhku dan hampir mengatakan kata-kata, ‘aku adalah kurir untukmu dari kekasihmu. ‘

Lama sekali ia memikirkan apa sesungguhnya angin yang harum tersebut, dan darimanakah bunyi-bunyian yang elok itu datang.

Wahai kilat yang menyambar, dari perlindungan siapa engkau muncul? Tetapi dia tidak sadar-sadar juga, meskipun sepanjang masa itu kesenangan tetap tinggal di hatinya.

Ah, jika saja Laila sekali saja mengirimkan salam karunianya, meskipun di antara kami terbentang debu dan bebatuan besar.

Membaca juga
: Baginda Sultan serta Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok

Salam kegembiraanku akan merupakan jawabnya, atau mau menjeritlah kepadanya si burung hantu, burung sakit yang memekik di tengah keremangan kuburan.

Burung merak itu bodoh, sebab ia telah lupa kepada dirinya dan juga tanah airnya.

… janganlah hendaknya awak bertingkah seperti orang yang mengalpakan Allah, yang mengakibatkan Allah melaksanakan mereka lupa diri pula. ( QS 59: 19 )

Setiap kali hembusan angin atau suara-suara datang dari taman, muncul hasrat dalam diri si burung merak tanpa mengetahui mengapa demikian.

Baca pula
: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi

Penyajak Al-Ma’arri, Siqth al-Zand, menulis:

Kilat Ma’arra bergerak di tengah malam, ia meninggalkan malam di Rama yang menceritakan kebosanannya.
Ia benar-benar menyedihkan para penunggang, kuda-kudanya, unta-unta, dan tetap bertambah menyedihkan, hingga ia hampir menyedihkan pelana-pelana

Ia tetap kebingungan selama beberapa waktu, sampai suatu keadaan sang raja memerintahkan agar burung itu dilepaskan dari keranjang dan kantung kulitnya untuk dibawa menghadapnya.

Baca pula : Kisah Bijak Para Ahlusuluk: Tuan Rumah dan Tamu

Peristiwa kebangkitan itu terjadi hanya dengan satu kali tiupan sangkakala saja . ( QS 37: 19 )

Apakah dia tidak mengetahui, apabila belakang sudah dibangkitkan segala isi kubur? Dan telah terungkap segala kandungan kalbu? Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu maha mengetahui keadaannya . ( QS 100: 9-11 )

Ketika burung keluar dari penutupnya, burung merak itu melihat dirinya berada di tengah-tengah taman. Ketika
memandang bulu-bulunya sendiri, serta melihat taman beserta aneka corak bunganya, atmosfir dunia, kesempatan untuk berjalan ke sana-kemari dan lelap tinggi, serta semua suara, irama, bentuk dan berbagai benda dengan ada, ia berdiri mendesah seakan-akan tak sadarkan diri (ejakulasi teofanik ‘syath’ yang terkenal dari Husayn ibn Manshur Al-Hallaj).

Baca juga : Lakon Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan

Wahai, sungguh aku menyesali kelalaianku di memenuhi kewajiban kepada Allah . ( QS 39. 56 )

Lalu Kami singkapkan tabir yang menutupi matamu, maka pandanganmu menjelma lepas jelas . ( QS 50: 22 )

Mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat karakter yang sedang melepaskan nyawanya itu, sedangkan Kami lebih dekat teristimewa kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat? ( QS 56: 83-85 )

Jangan berbuat begitu, kelak kamu bakal tahu akibatnya. Sekali lagi, jangan berbuat begitu, kelak kamu akan tahu juga akibatnya . ( QS 102: 3-4 )

Menangkap juga : Abu Nawas Benar Debitur yang Cerdik, Tuan Tanah Kena Tipu

==

Hikayat Mistis adalah karya mistis seorang pemikir masyhur, Syaikh Al-Isyraq –demikian melangsungkan disematkan kepadanya–Syihabuddin Yahya ibn Habasyi ibn Amirak. Tokoh ini berasal dari Suhrawardi (dekat Zanjan dalam Iran barat- laut). Dalam kebiasaan filosofis dan mistik (tasawuf) dalam dunia Islam timur, dikenal jadi ‘Guru Pencerah’. Beliau adalah pendiri aliran Isyraqiyyah dalam teosofi dan filsafat. Dinukil dari Hikayat-Hikayat Mistis, Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi, Mizan Bandung
(1992).

(mhy)

Author Image
Vincent Moore